Dua UPT Kemensos RI Tangani Disabilitas Berat Penyintas Banjir Bima

Dua UPT Kemensos RI Tangani Disabilitas Berat Penyintas Banjir Bima

Dua UPT Kemensos tangani empat disabilitas berat penyintas banjir Bima -  ANTARA News

Dua UPT Kemensos RI Tangani Disabilitas Berat Penyintas Banjir Bima –

Kementerian Sosial RI melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Disabilitas Mahatmiya Bali dan Balai Besar Disabilitas Prof. Dr. Soeharso di Surakarta merespon korban banjir di Kab Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tim Respon Kasus Balai Mahatmiya Bali di pimpin Kepala Layanan Rehabilitasi Sosial, Herlin Wahyuni Hidayat, berkoordinasi dengan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bima, Andi Sirojudin, serta Pendamping Penyandang Disabilitas.

Di lansir dari koocopy.com, “Di antara korban banjir bandang adalah para penyandang disabilitas yang saat ini sangat membutuhkan bantuan bersifat mendesak, seperti sembako,” ujar Andi.

1. Kunjungi satu keluarga dengan empat penyandang disabilitas

Di kutip dari IDN Poker APK, tim mengunjungi satu keluarga dengan empat penyandang disabilitas fisik berat. Idris Abdullah, ayah dari penyandang disabilitas tersebut menceritakan anak-anaknya yang sakit sejak umur 7-9 tahun.

“Anak saya paling besar, Badaruddin sejak 9 tahun mengalami demam tinggi seminggu dan di susul kaki mulai lemas tapi masih bisa jalan dan perlahan kaku hingga seperti sekarang saat ini,” ungkap Idris.

Hasil assesment Badaruddin, 50 tahun, Syahruddin, 47 tahun, Jasman 45 tahun, serta Sriyati 38 tahun, hanya bisa terbaring, tidak bisa duduk, persendian kaku, tangan dan kaki terlihat mengecil. Namun, bersih dan terawat, tidak ada bau menyengat, serta komunikasi sulit tapi masih bisa di pahami.

Tim berkoordinasi dengan Balai Prof. Dr. Soeharso melalui foto dan video untuk penanganan lebih lanjut. Hasil asesmen mereka mengalami kekakuan gerak pada badan, tangan dan kaki karena gangguan pola gerak pada otot dan postur tubuh.

Hal ini di sebabkan kerusakan saraf pusat atau otak (Quadriplegi Spastik Ateroid) di sertai pemendekan otot pada kedua pergelangan kaki dan kedua pergelangan tangan, karena demam tinggi dan kejang pada usia 6 – 8 tahun.

2. Menggantungkan bantuan orang lain

Dalam kegiatan sehari-hari, mereka hanya menggantungkan bantuan orang lain, seperti makan, minum, perawatan diri, bahkan hanya sekedar memiringkan badan.

Sebelumnya, mereka sudah memiliki kursi roda adaptif dari bantuan Pemerintah Provinsi NTB. Sejak 2008 – 2018 mereka mendapat bantuan (Asistensi Sosial Penyandang Disabilitas Berat (ASPDB).

Di akhir 2018 ada pengalihan ASPDB ke Program Keluarga Harapan (PKH), karena ketentuan PKH maksimal 2 orang disabilitas berat yang bisa mendapatkan bantuan PKH yaitu Baharudin dan Sriyati.

Jasman mendapatkan ASPD mulai 2020 dan Syahrudin sejak 2018 tidak mendapatkan bantuan lain selain sembako setiap tahunnya dari Pemda. Tim respon Kasus Balai Prof. Dr. Soeharso sedang menelusuri sebab penghentian bantuan terhadap Syahrudin.

Tim respon Balai Prof. Dr. Soeharso menyimpulkan bahwa disabilitas ini, termasuk kategori disabilitas berat (bedridden), karena semua aktivitas di tempat tidur dan bergantung sepenuhnya kepada orang lain.