Kisah Dokter Mariska Temani Suami di ICU Bergelut Melawan COVID-19

Kisah Dokter Mariska Temani Suami di ICU Bergelut Melawan COVID-19

Di lansir dari koocopy.com, satu tahun lebih, pandemik COVID-19 melanda Indonesia, perasaan duka pun masih menyelimuti dokter spesialis paru Mariska T.G. Pangaribuan. Dokter RS Kanker Dharmais ini tidak menyangka akan kehilangan suaminya karena COVID-19.

Di kutip dari IDN Poker APK, sebagai dokter yang menangani pasien COVID-19, dia dan keluarga sangat ketat menerapkan protokol kesehatan. Setiap pulang dari rumah sakit, dia mandi lagi sampai di rumah meski di rumah sakit juga mandi.

Mariska juga menjaga jarak dari semua orang rumah, tidak makan bersama dan bahkan tidur terpisah di kamar sendiri. Kedisiplinan menjaga jarak itu ia lakukan karena hanya dirinya yang beraktivitas di luar rumah suami dan anak-anaknya dapat bekerja serta belajar dari rumah.

“Sejak awal menangani pasien COVID-19, ketakutan terbesar saya adalah tertular dan membawa virus ke rumah. Makanya saya selalu jaga diri dengan anak-anak dan suami, tapi, seperti peribahasa yang menyatakan bahwa manusia boleh berusaha pada akhirnya takdir Tuhan-lah yang bicara,” ujarnya di kutip laman buku Dharmaistory.

1. Pelonggaran PSBB buat suami Mariska tertular virus corona

Mariska mengungkapkan, sejak informasi datangnya wabah dan pembatasan sosial berskala besar, protokol kesehatan ketat di jalankan oleh Mariska dan keluarganya. Tapi di siplin menjalankan protokol kesehatan itu seolah sia-sia ketika pelonggaran PSBB di berlakukan dan masyarakat secara umum kembali beraktivitas hampir seperti sedia kala saat pandemik belum selesai.

Ketika pelonggaran PSBB di berlakukan, suami Mariska kembali harus bekerja dan datang ke kantor. Menjalani rapat- rapat dan bertemu kolega di satu ruangan yang sama.

Saat di ketahui salah satu dari rekan kerja yang terinfeksi COVID-19, suami Mariska ikut teridentifikasi pernah menjalin kontak erat dengan orang positif COVID-19 tersebut karena berada dalam satu ruangan tertutup secara bersama dan dalam waktu lama.

2. Ruang isolasi terasa bagaikan penjara bagi mereka yang di rawat

Dari hasil yang di peroleh, suami Mariska di ketahui positif COVID-19 meski saat itu ia belum bergejala. Walaupun tanpa gejala dan kondisinya tampak cukup baik, ia menjalani isolasi di Rumah Sakit Pertamina.

Perkiraan sang suami adalah Orang Tanpa Gejala (OTG) yang relatif sembuh ternyata meleset. Hari-hari tanpa gejala tersebut bukan karena ia OTG. Tetapi karena virus yang telah memasuki masa itu masih dalam masa inkubasi atau masa awal gejala gejala belum timbul. Di hari ke lima di rawat, gejala sesak dan demam mulai datang sampai akhirnya mengalami perburukan dan masuk ruang ICU.

Sebagai dokter yang hampir setiap hari merawat pasien COVID-19. Mariska paham bagaimana ruang isolasi bisa terasa bagaikan penjara bagi mereka yang di rawat di dalamnya.