Mayat Terbakar Ditemukan Daerah Perbatasan AS – Mexico

Mayat Terbakar Ditemukan Daerah Perbatasan AS – Mexico

Mayat Terbakar Ditemukan Daerah Perbatasan AS – Mexico – Pembatas Amerika Serikat–Meksiko adalah serangkaian tembok dan pagar yang digunakan untuk mencegah perlintasan ilegal dari Meksiko ke Amerika Serikat. Pembatas tersebut bukanlah satu struktur yang saling berkaitan, namun meliputi beberapa tembok fisik pendek yang terpisah, yang diamankan dengan “pagar virtual” yang meliputi sistem sensor dan kamera yang dipantai oleh United States Border Patrol.

Otoritas Meksiko, khususnya di negara bagian Tamaulipas yang berada di timur laut negara tersebut, menyatakan telah menemukan sedikitnya 19 mayat yang hangus karena terbakar. Belasan mayat ditemukan di sepanjang jalan dekat kota Camargo, di seberang Rio Grande, negara bagian Texas, AS.

Pada hari Sabtu malam, kejaksaan Tamaulipas menanggapai laporan warga yang menemukan kendaraan terbakar di luar kota Camargo dan segera melakukan penyelidikan ke lokasi kejadian. Otoritas kejaksaan akhirnya menyaksikan sebuah aplikasi idn poker open card bekas insiden yang mengerikan ketika menemukan ada dua kendaraan terbakar dan belasan mayat di dalamnya.

1. Kematian akibat proyektil senjata api

Penyelidikan yang dilakukan oleh otoritas negara bagian Tamaulipas melakukan penyelidikan secara teliti dan menemukan dua kendaraan terbakar, salah satunya berjenis van. Di dalam van tersebut, dua mayat ditemukan di kursi depan dan 15 mayat ditemukan di bagian belakang. Di kendaraan lain ada empat mayat.

Sebanyak 16 mayat telah diidentifikasi pria dan satu wanita. Sisanya belum bisa diidentifikasi karena bekas luka bakar yang parah telah mempersulit pross identifikasi tersebut.

Melansir dari laman Al Jazeera, polisi menyampaikan pernyataan tentang penyebab kematian orang-orang tersebut. Semua mayat memiliki bekas luka tembak. Namun polisi tidak menemukan longsong peluru di lokasi kejadian.

“Investigasi awal menunjukkan bahwa kematian (para korban) disebabkan proyektil senjata api dan kemudian korban dibakar” kata polisi dalam pernyataan tersebut. Ada dugaan kuat bahwa sebenarnya para korban telah dibunuh di tempat lain, lalu di bawa ke dekat kota Camargo untuk dibakar.

2. Konflik antar kartel narkoba

Meksiko memang telah terkenal sebagai salah satu negara Amerika Latin yang paling berbahaya karena konflik antar kartel narkoba. Di wilayah Tamaulipas, ada dua kelompok kartel yang seringkali terlibat konfrontasi. Mereka adalah kartel Noreste dan kartel Teluk yang telah aktif di Tamaulipas selama beberapa dekade.

Kartel Teluk memang secara historis telah menguasai wilayah Tamaulipas dan kota Camargo telah lama dicurigai terlibat dalam beberapa insiden penyelundupan narkoba dan imigran gelap. Melansir dari laman News Sky, para kelompok geng berseteru untuk mengendalikan wilayah perbatasan yang panjang, dengan tujuan untuk menghasilkan uang dan barang-barang (selundupan) yang lewat.

Pihak kepolisian telah mengendus kemungkinan bahwa korban adalah para imigran gelap yang berasal dari Guatemala dan bertujuan menyeberang ke Amerika Serikat. Meskipun begitu, sampai sejauh ini kesimpulan sementara itu masih dalam upaya penyelidikan dan mencari bukti-bukti terkait.

3. Keluarga suku Maya Guatemala khawatir bahwa korban termasuk keluarga mereka

19 Mayat Terbakar Ditemukan di Perbatasan AS-Mexico

Amerika Tengah baru saja dilanda dua badai hebat yakni badai Iota dan badai Eta. Dua badai tersebut telah membuat banyak sekali kerusakan sehingga ratusan ribu penduduk mengungsi. Honduras, sebagai salah satu negara terparah, badai telah membuat warga negara itu bertekad memasuki Amerika Serikat dengan jalan kaki dan membentuk karavan untuk menjadi migran.

Selain Honduras, ada Guatemala. Negeri tersebut juga termasuk yang dihantam badai dan banyak dari penduduk memiliki keinginan dan bermimpi memperbaiki hidup lebih baik di AS menjadi imigran. Sebagian ada yang memilih untuk lewat “pintu belakang” sebagai imigran ilegal.

Penemuan 19 mayat di perbatasan Meksiko dan AS akhirnya juga tersiar sampai di Guatemala. Melansir dari kantor berita Reuters, Kementrian Luar Negeri Guatemala telah secara sigap menjalin komunikasi dengan Dubes Meksiko untuk bekerja sama. Mereka berusaha memastikan apakah benar para korban temasuk orang-orang berkebangsaan Guatemala.

Ada sekitar 30 pria suku Maya Guatemala yang mendatangi Kementrian Luar Negeri Guatemala. Salah satunya adalah Evaristo Agustin. Dia mencari kakak iparnya yang berusia 22 tahun. “Kami mendengar dari orang-orang yang sudah ada di AS, anggota keluarga dan tetangga, yang mengatakan kerabat kami adalah bagian dari kelompok ini (korban),” katanya.

Mereka, sekitar 30 pria tersebut, termasuk diantaranya Agustin, memberikan sampel DNA untuk membantu otoritas berwenang memudahkan identifikasi para korban. Sampel DNA itu nantinya akan dibandingkan dengan sampel DNA dari korban di Tamaulipas.

Seorang anggota parlemen Guatemala, Mario Ernesto Galvez, mengatakan setidaknya 13 korban kemungkinan dari Guatemala yang berasal dari pegunungan San Marcos. Namun hingga kini penyelidikan masih terus berlangsung. Jika memang terbukti bahwa para korban adalah imigran, maka insiden tersebut adalah salah satu tindakan kekejaman terburuk terhadap warga Amerika Tengah dalam beberapa tahun terakhir di Meksiko.